Potret Masyarakat Miskin Provinsi Lampung

Buah Hati Syarif Hanya Terkulai Lemas



Keluarga Syarif menyampaikan keluhannya kepada awak media setempat mengenai penyakit kebocoran ginjal dan pembengkakan yang dialami anaknya di Kelurahan Kelapatujuh, Kecamatan Kotabumi Selatan, Jumat (6/10/2017). LAMPUNG POST/FAJARNOFITRA


KOTABUMI (Lampost.co) -- Pagi itu, sinar matahari sedikit meredup terhalang awan tipis yang memenuhi cakrawala Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Suasana pagi itu seolah mewakili suasana hati warga kelurahan setempat, yakni Syarif (35) dan Risma (30).
Bagaimana tidak, buah hati kesayangan mereka berumur belum genap dua tahun itu tergolek lemas di pembaringan. Kebanyakan berada di dekapan sang ibu, maklum saja anak itu mengalami kebocoran ginjal dan pembekakan di sekujur tubuhnya.

Di kediamannya yang hanya beratapkan genting tua dan dinding geribik yang telah melapuk dimakan sang rayap, Syarif dan Risma mengaku hanya bisa pasrah dengan keadaan buah hatinya. Sebab pekerjaan mereka sehari-hari hanyalah buruh serabutan.
Di tengah-tengah kesulitan dihadapi warga di sana, apalagi saat ini keadaan sedang paceklik tua. Hasil masyarakat yang mengandalkan sektor pertanian yang nilainya jauh dari kebutuhan, sedangkan kebutuhan hidup terus melambung harganya.

Mereka harus datang rutin dua bulan sekali ke rumah sakit kebanggaan masyarakat di sana. Ia mengaku meski telah menggunakan kartu BPJS kesehatan, terkadang tetap harus merogoh dalam koceknya demi memperoleh obat.

"Apalagi di saat ketersediaan obat di rumah sakit tidak tersedia, sehingga kami harus beli dari luar. Dalam satu pekannya kami harus datang ke rumah sakit untuk sekadar chek-up, di sanalah terkadang obat tidak tersedia," ujar Syarif.

Ia melanjutkan selama ini telah menjalani pengobatan medik, baik itu dengan mantri desa maupun bidan. Namun, kesehatan sang anak tidak ada perubahan berarti. Dia bersama keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit setempat.

"Dari situlah saya tahu kalau ginjal anak kami mengalami kebocoran, saya tidak tahu sampai kapan ini berakhir. Sebab, hanya ini batas kemampuan kami, harapannya sih ada pendarma yang sudi membantu kesusahan kami."

Syarif mengaku hidupnya kian berat lantaran harus mengobati anak juga mencari penghidupan. "Belakangan ini saya tidak fokus dengan pekerjaan karena mengurusi anak. Mau bagaimana lagi, Mas, kami hanya bisa pasrah dengan semua ini," ujarnya.
https://goo.gl/YAoBDL

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Roling Di Lampura Prenseden Buruk Supremasi Hukum

Plt Bupati dan Sekda Lampura Dianggap Ciptakan Konflik Warga Lampura melakukan unjuk rasa di halaman kantor pemkab setempat, Senin (26/3/...